Senin, 13 Agustus 2012


MONDAY, AUGUST 13, 2012

PERKATAAN KITA BERKUASA!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Agustus 2012 -

Baca:  Amsal 12:1-28

"Setiap orang dikenyangkan dengan kebaikan oleh karena buah perkataan, dan orang mendapat balasan dari pada yang dikerjakan tangannya."  Amsal 12:14

Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya dengan kata-katanya yang diucapkan melalui mulutNya.  "Jadilah terang."  (Kejadian 1:3), maka terang itu jadi.  "Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air."  (Kejadian 1:6), maka terjadilah apa yang diperkatakan Allah itu.  Perkataan adalah unsur yang penting dalam proses penciptaan alam semesta ini.  Jadi semua kata yang ke luar dari mulut Allah berkuasa.  Juga ketika Yesus berada di bumi, semua perkataanNya penuh kuasa.  Dengan berkata-kata Dia sanggup menyembuhkan sakit-penyakit, membangkitkan Lazarus yang sudah mati empat hari  (baca Yohanes 11:43-44), angin ribut diredakan  (baca Markus 4:39).

     Karena kita ini diciptakan menurut gambar dan rupaNya, maka setiap perkataan yang ke luar dari mulut kita pun mengandung kuasa.  Apa pun yang kita perkatakan akan berdampak terhadap masa depan kita.  Maka marilah kita bersedia tak henti-hentinya diingatkan agar berhati-hati dengan perkataan kita.  Perhatikan kata Yakobus,  "Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.  Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar"  (Yakobus 3:4-5a).

     Masihkah kita semborono dengan perkataan kita?  Dengan perkataan, kita daat membangun masa depan yang baik, tapi dapat pula menghancurkan masa depan kita sendiri.  Dengan perkataan, kita dapat menguatkan, menghibur, melemahkan dan juga menyakiti orang lain.  Janganlah jemu-jemu memperkatakan yang positif, karena apa yang kita percayai, bila kita ucapkan dengan iman, cepat atau lambat akan terwujud dalam alam nyata.  Ucapkan janji firman Tuhan setiap hari dan berhentilah memperkatan yang negatif!  Karena perkataan kita besar kuasanya, maka apa pun yang kita ucapkan harus selalu dalam pimpinan Roh Kudus dan sesuai dengan firman Tuhan.

"Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."  Filipi 4:8

Minggu, 05 Agustus 2012


SUNDAY, AUGUST 5, 2012

MENGHANCURKAN PEKERJAAN IBLIS (3)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Agustus 2012 - 

Baca:  Roma 16:17-20

"Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!"  Roma 16:20

Iman yang dimaksud adalah percaya penuh kepada Tuhan Yesus.  Iman inilah yang mampu menghancurkan pekerjaan Iblis.  Tertulis:  "sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.  Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?"  (1 Yohanes 5:4-5).  6.  Ketopong keselamatan.  Ketopong berfungsi untuk melindungi kepala kita.  Di dalam kepala ada otak untuk berpikir.  Jadi ketopong ini akan menjaga pikiran kita dari panah-panah musuh.  Pikiran kita adalah pusat dari segala sesuatu.  Melalui pikiran, kita dapat mengarahkan perisai dan pedang dan juga semua gerakan dari tubuh kita untuk menghindar atau melawan musuh.  Karena itu kita harus menjaga dan melindungi pikiran kita sedemikian rupa karena kita tahu bahwa pikiran kita adalah medan peperangan antara daging dan roh.  Karena itu kita harus bisa  "...menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus," (2 Korintus 10:5b) sehingga kita  "...memiliki pikiran Kristus."  (1 Korintus 2:16b).  'Area pikiran' kita inilah yang selalu menjadi sasaran empuk si Iblis untuk menyerang.  Saat kita mengenakan ketopong keselamatan ini sebenaranya kita sedang mengenakan 'pikiran' Kristus.  7.  Pedang Roh.  Pedang adalah untuk bertahan dan juga menyerang.  Pedang dapat menahan prajurit dari serangan musuh dan digunakan untuk melukai atau membunuh lawan.  Pedang dibawa di tangan kanan dan merupakan lambang dari kuasa dan otoritas.  Pedang Roh adalah firman Tuhan yang dipertajam dan dihidupkan oleh Roh kudus.  Tertulis:  "...firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita."  (Ibrani 4:12).  Selain firman, pedang Roh kita adalah doa dan permohonan.  Karena itu,  "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,"  (Efesus 6:18b).  Kalau kita senantiasa berjaga-jaga, Iblis tidak akan mampu menyerang kita.

Dengan perlengkapan senjata Allah ini, kita siap menghancurkan pekerjaan Iblis!

Selasa, 07 Juni 2011

Roh Kudus Memimpin kepada Kebenaran

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -
Menjelang Pentakosta
Bacaan Alkitab hari ini: Yohanes 16:13
Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita dinyatakan sebagai “benar” oleh Allah. Sejak saat itu, Roh Kudus terus menuntun kita dalam suatu proses pengudusan sehingga kita bisa semakin mengenal Allah dan menikmati firman-Nya.
Kemarin kita telah merenungkan peran Roh Kudus yang menginsafkan dunia akan dosa. Dalam bacaan hari ini, Roh Kudus disebut juga Roh Kebenaran yang menuntun ke dalam seluruh kebenaran. Apakah kebenaran itu? Menurut pemahaman umum, seseorang disebut “benar” bila kelakuannya tidak bercela secara hukum atau moral. Akan tetapi, hukum dan standar Allah berbeda. Alkitab menyatakan bahwa semua manusia berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dan tidak seorang pun yang dibenarkan Allah karena melakukan hukum Taurat. Sesuatu yang tragis dan memilukan! Manusia (ciptaan Allah) berpisah dengan Allah (Sang Pencipta) merupakan tragedi terbesar yang tiada taranya sepanjang zaman. Namun, kita bersyukur bahwa Roh Kudus akan menuntun kita kepada Allah dan seluruh kebenaran-Nya. Roh Kudus berkarya sesuai dengan kebenaran firman Allah.  Tidak pernah dan tidak akan pernah ada suatu tindakan atau tuntunan Roh Kudus yang bertentangan dengan firman Allah. Allah Tritunggal berkarya dalam suatu kesatuan untuk kebaikan dan keselamatan manusia.
Saat kita dipimpin Roh Kudus, firman Allah akan semakin berarti. Hidup kita diterangi dan kita lebih mengerti firman Allah dan menaati kehendak Allah. Kita dibebaskan dari ikatan kuasa dosa dan ketidakmengertian. Kebenaran ini tersedia dan terbuka bagi siapa pun yang mau menerima anugerah penebusan di dalam Kristus. Hidupnya akan dituntun ke dalam seluruh kebenaran.  [LM]
Roma 3:23-24
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh karena kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”

Minggu, 27 Maret 2011

BERKAT MELIMPAH BAGI YANG SUKA MEMBERI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Maret 2011 -

Baca:  2 Korintus 9:6-15

"Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan."  2 Korintus 9:8

Jika Alkitab menyatakan prinsip tentang memberi dan menerima, menabur dan juga menuai, hal ini menunjukkan bahwa berkat yang disediakan Tuhan bagi orang yang suka memberi adalah sesuatu yang pasti dan pasti digenapiNya.  Bahkan dalam hal persepuluhan saja Tuhan menantang kita untuk mengujiNya.  Tuhan berkata,  "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan."  (Maleakhi 3:10).  Artinya apabila kita mempersembahkan persepuluhan kepada Tuhan dengan motif yang benar, kita pasti diberi kelimpahan.  Banyak orang ingin menikmati hidup berkelimpahan dan diberkati, tapi dia tidak mau menerapkan pola hidup suka memberi seperti yang Tuhan kehendaki.  Banyak juga orang Kristen yang mencoba untuk memberi, namun mengapa belum juga menampakkan hasil seperti yang diharapkan?  Mengapa mereka seolah-olah tidak menuai sesudah menabur?

     Berkat Tuhan mengalir sesuai dengan kemampuan kita untuk menerimanya.  Satu-satunya yang menghambat berkat adalah ketidaksiapan kita sendiri untuk menerima berkat-berkat itu.  Ketika bejana-bejana milik janda yang kita baca di 2 Raja-Raja 4:1-7 sudah penuh dan tidak ada lagi yang kosong, berhentilah minyak itu mengalir.  Minyak milik janda itu berhenti mengalir ketika tidak ada lagi bejana untuk menampungnya.  Sesungguhnya Tuhan selalu menyediakan segala yang kita perlukan, dan ketika kita sudah siap untuk menerima berkat yang lebih, berkat-berkat itu akan datang.  Oleh karena itu mari belajar menjadi orang yang suka memberi, bukan orang yang hanya mengharapkan untuk diberi.  "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."  (Kisah 20:35b).

     Inilah rahasia hidup diberkati!  Saat kita memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain, Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita juga.  Ingin menikmati berkat Tuhan secara menyeluruh?  Berilah juga secara menyeluruh.

Tuhan memberkati kita supaya kita menjadi berkat bagi orang lain bukan untuk diri sendiri!

Kamis, 24 Februari 2011

JANJI TUHAN TIDAK PERNAH DIINGKARI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Februari 2011 -

Baca:  Mazmur 119:137-152

"Janji-Mu sangat teruji, dan hamba-Mu mencintainya."  Mazmur 119:140

Adalah hal yang biasa bila manusia seringkali mengecewakan sesamanya, salah satunya adalah perihal janji.  Berapa banyak dari kita yang kecewa oleh karena janji yang tidak tepati, atau ucapan yang tidak bisa dipegang kebenarannya?  Misalnya soal utang-piutang, begitu gampangnya seseorang berutang kepada orang lain, tapi untuk melunasinya?  Jarang sekali tepat waktu, janji tinggal janji dan berujung pada ingkar.  Itulah manusia!  Tapi kita patut bersyukur karena kita punya Tuhan yang tidak pernah ingkar terhadap apa pun yang dijanjikanNya.  "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.  Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?"  (Bilangan 23:19).  Contoh:  janji Tuhan untuk memberikan Tanah Perjanjian (Kanaan) kepada bangsa Israel sebagaimana Ia sampaikan kepada Abraham,  "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu."  (Kejadian 12:7).  Meskipun keturunan Abraham berlaku tidak setia, namun Dia tetaplah Tuhan yang setia pada janjiNya;  pada saat yang tepat digenapiNya.

     Bila kita baca dalam Bilangan pasal 34, dinyatakan bahwa batas-batas Tanah Perjanjian itu disampaikan oleh Tuhan sendiri kepada Musa,  "Perintahkanlah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka:  Apabila kamu masuk ke negeri Kanaan, maka inilah negeri yang akan jatuh kepadamu sebagai milik pusaka, yakni tanah Kanaan menurut batas-batasnya."  (Bilangan 34:2), bahkan Tuhan sendiri yang menentukan dan meilih orang-orang yang bertugas untuk membagi tanah itu.

     Bila saat ini kita sedang dalam kesesakan dan penderitaan, jangan menjadi lemah dan tawar hati.  Sebaliknya, tetaplah fokus pada janji Tuhan karena Dia Tuhan yang tidak pernah berubah, dahulu sekarang dan sampai selama-lamanya.  Ia adalah Tuhan yang setia;  Ia setia kepada firmanNya dan setia kepada janjiNya.  Tuhan hanya menghendaki kita tetap taat, tekun dan setia melakukan semua perintahNya.  Itulah bagian yang harus kita kerjakan!  Pemazmur berkata,  "Aku berseru dengan segenap hati;  jawablah aku, ya Tuhan!  Ketetapan-ketetapan-Mu hendak kupegang.  Aku hendak berpegang pada peringatan-peringatan-Mu."  (Mazmur 119:145-146b).

Mari kita hidup dalam ketaatan, dan pada saatnya Tuhan akan mengerjakan bagianNya yaitu menepati janjiNya atas kita!

Sabtu, 19 Februari 2011

IBADAH: Latihan Rohani

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Februari 2011 -

Baca:  1 Timotius 4:1-16 

"Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."  1 Timotius 4:8

Pada bulan November 2010 lalu bangsa-bangsa di benua Asia ambil bagian dalam kejuaraan olahraga terbesar se-Asia yaitu Asian Games di Guangzhou, Cina.  Tak terkecuali negara kita pun mengirimkan atlet-atlet terbaiknya di berbagai cabang olahraga:  ada atlet dari cabang tenis, bulutangkis, renang, balap sepeda, voli indoor dan sebagainya.  Sudah dipastikan bahwa setiap atlet atau olahragawan yang dikirim adalah orang-orang yang sehat dan bugar, karena mereka secara rutin berlatih dan melakukan olahraga setiap hari.  Tujuan berolah raga adalah supaya tubuh jasmani kita sehat dan kuat.

     Begitu juga dengan manusia 'rohani' kita, perlu dilatih secara teratur supaya kuat.  Bagaimana latihannya?  Yaitu melalui ibadah.  Beribadah adalah latihan untuk manusia rohani kita.  Karena itu  "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."  (Ibrani 10:25).  Olahraga dan ibadah itu sama-sama menjadikan diri kita kuat, tapi sasarannya berbeda;  yang satu semakin membuat tubuh jasmani kita kuat dan sehat, sedangkan ibadah membuat roh kita semakin kuat.

     Mari kita melatih manusia rohani kita lebih dari latihan badaniah kita.  Tubuh jasmani kita ini ada batasnya dan hanya bersifat sementara saja yaitu selama kita hidup di dunia ini.  Tapi dampak dari ibadah atau latihan rohani, sampai kepada kekekalan,  "...mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun hidup yang akan datang."  Ada berkat, damai, sejahtera, pemulihan, sukacita, kemenangan, terlebih lagi mahkota kehidupan dan sorga yang kekal telah disediakan Tuhan sebagai upah.  Mana yang menjadi prioritas kita?  Berdoa dengan tekun, membaca dan merenungkan firman Tuhan, serta memberikan pujian dan penyembahan kepada Tuhan adalah program-program latihan rohani yang harus kita kembangkan setiap hari.  Kedatangan Tuhan sudah sangat dekat!

Jadikan ibadah kepada Tuhan sebagai prioritas utama dalam hidup kita, lebih dari perkara-perkara jasmani yang ada di dunia ini!

Selasa, 15 Februari 2011

JANGAN BANGKITKAN CEMBURU TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Februari 2011 -

Baca:  2 Korintus 11:1-6

"Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi.  Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus."  2 Korintus 11:2

Bagaimana perasaan Saudara jika pacar, suami atau isteri kita tertarik kepada orang lain atau menjalin hubungan secara tersembunyi dengan orang lain?  Kita pasti terbakar rasa cemburu, bukan?  Mendengar kata 'cemburu' pasti kita akan menilainya sebagai sesuatu yang negatif, karena makna konotasi dari 'cemburu' adalah iri hati.  Tapi kepada jemaat di Korintus ini Paulus mengatakan tentang kecemburuan ilahi.  Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, mereka telah 'dipertunangkan' dengan Kristus.  Karena itu dituntut kesetiaan mutlak, jangan sampai mereka mendua hati dan tidak lagi setia kepada Tuhan.  FirmanNya menegaskan,  "...janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena Tuhan, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu."  (Keluaran 34:14).  Ayat ini jelas menyatakan bahwa Allah kita adalah Allah yang cemburu, yang tidak ingin milik kesayanganNya dimiliki oleh yang lain.  Kata 'cemburu' disini bukan iri hati, karena cemburu yang memiliki arti iri hati biasanya disertai dengan suatu tindakan mengambil milik orang lain, karena ia tidak memilikinya.

     Dalam Yakobus 4:4-5 dinyatakan bahwa Roh Allah yang ditempatkan dalam hati kita memiliki sifat cemburu.  Karena itu kita harus menjaga perasaan Tuhan!  Seringkali kita tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan selama ini telah menduakan hati Tuhan dan membuatNya cemburu.  Tertulis:  "Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah.  Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah."  (Yakobus 4:4).  Jangan sampai Roh yang ada dalam diri kita cemburu oleh karena kita bersahabat dengan dunia ini:  hati kita mulai condong kepada perkara-perkara dunia, materi dan kesenangan daging sehingga ibadah mulai terabaikan;  saat teduh sering kita tunda-tunda karena capai dan sibuk.  Tuhan tidak lagi menjadi prioritas utama hidup kita.

     Hari ini kita diingatkan untuk tidak melakukan hal-hal yang akan membangkitkan Dia cemburu.  Tuhan sangat mengasihi kita, bahkan Dia rela mengorbankan nyawaNya bagi kita, masakan kita berpaling dari Dia dan lebih mengasihi dunia ini?

Supaya Tuhan tidak cemburu, marilah kita hidup berpadanan dengan Injil dan melayani Dia dengan kesungguhan hati.

Sabtu, 05 Februari 2011

BERMULA DARI HAL KECIL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Februari 2011 -

Baca:  Lukas 16:10-13 

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar."   Lukas 16:10a

Seorang pendaki bisa mencapai puncak gunung diawali oleh pijakan pertama.  Seorang pelari mampu mencapai garis finis dan menjadi juara juga bermula dari langkah awal yang baik.  Segala sesuatu yang besar bermula dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu.  Pohon nangka yang besar dan berbuah lebat serta tampak rindang di belakang rumah kita pun juga berasal dari satu biji nangka yang kecil.  Coba renungkanlah itu.

     Dalam perumpamaan tentang biji sesawi Tuhan Yesus berkata,  "Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya."  (Matius 13:32).  Karena itu jangan pernah meremehkan perkara-perkara kecil yang tampaknya sederhana.  Untuk menjadi besar kita harus bersedia memulai sesuatu dari perkara yang kecil.  Perkara yang kecil bermula dari apa yang ada pada kita saat ini.  Apa yang kita miliki adalah permulaan dari segala sesuatu yang akan kita miliki di masa yang akan datang:  pekerjaan atau profesi yang kita jalani, pelayanan yang dipercayakan kepada kita, talenta, harta yang kita miliki dan lain-lain.  Jangan sampai kita seperti orang yang memiliki satu talenta, yang hanya menyimpan talentanya itu di dalam tanah dan tidak mengembangkannya (baca  Matius 25:24-30).  Mari kita kerjakan dengan setia apa pun yang dikaruniakan Tuhan bagi kita, supaya pada saatnya, perkara-perkara besar atau hal-hal yang tidak terpikirkan, akan disediakanNya bagi kita.  "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia:  semua disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2:9).

     Yesus juga memulai pelayananNya dari bawah.  Karena kesetiaan dan ketaatanNya pada Bapa dari hal-hal kecil, akhirnya Yesus menjadi yang terbesar dan  "...Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,"  (Filipi 2:9).  Yusuf, sebelum menjadi the second man di Mesir, terlebih dulu setia dan tekun melakukan perkara-perkara kecil, sehingga pada saatnya ia beroleh kepercayaan terhadap hal-hal yang besar.

Apa pun yang Tuhan percayakan kepada kita, mari kita kerjakan dengan setia, karena ini adalah permulaan dari perkara-perkara besar.

HIDUP KEKRISTENAN ADALAH SEBUAH PROSES

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Februari 2011 -

Baca:  Ibrani 5:11-14 

"Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat."   Ibrani 5:14

Perjalanan hidup seorang Kristen harus mengalami pertumbuhan dari hari ke hari.  Sebagaimana seorang bayi yang dilahirkan bukan sekedar menjadi bayi yang lucu dan imut selama bertahun-tahun, tapi pada saatnya ia akan berkembang menjadi anak yang sehat dan cerdas, masuk ke jenjang pendidikan dan akhirnya menjadi seorang dewasa yang mandiri.

     Pula sebagai orang Kristen kita tidak hanya berhenti sebatas percaya kepada Kristus saja.  Kita harus mengalami kelahiran baru, lalu terus berproses hingga menjadi seorang Kristen yang dewasa secara rohani.  Itulah kehendak Tuhan bagi kita.  Rasul Petrus menasihatkan,  "...bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus."  (2 Petrus 3:18a), agar supaya  "...kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah."  (Kolose 4:12).  Apa yang dimaksud dengan dewasa rohani?  Dewasa rohani berarti menjadi serupa dengan Kristus dalam hal karakter.  Jadi setiap orang percaya harus memiliki perubahan hidup, salah satunya dalam hal karakter, yang semakin menyerupai karakter Kristus.  Sudahkah karakter Kristus ada dan menjadi bagian dalam hidup kita sehari-hari?  Memiliki buah-buah Roh adalah tanda bahwa seseorang memiliki karakter Kristus:  "...kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri."  (Galatia 5:22-23a).

     Dewasa rohani juga berarti mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dan mau melakukan ketaatan.  Kita bukan hanya sekedar mahir dan paham akan isi Alkitab, namun perbuatan dan tindakan kita juga harus benar-benar selaras dengan firman tersebut.  Perlu kita ketahui bahwa kedewasaan rohani itu tidak terjadi secara otomatis, tetapi merupakan suatu proses dan butuh kedisiplinan dari kita.  Oleh karena itu  "Latihlah dirimu beribadah.  Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."  (1 Timotius 4:7b-8).  Jangan sekali-kali menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah karena kedewasaan rohani tidak terjadi secara instan!

Mempelai Kristus adalah orang-orang Kristen yang dewasa.

Sabtu, 22 Januari 2011

YANG MENGHAMBAT JANJI TUHAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Januari 2011 -

Baca:  1 Petrus 3:8-12

"Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu."  1 Petrus 3:10

Tuhan berkata dalam firmanNya,  "...Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."  (Yeremia 29:11).  Jelas sekali bahwa rancangan Tuhan dalam kehidupan orang percaya adalah keberhasilan, hari-hari baik dan masa depan yang penuh pengharapan.  Tuhan telah menyediakan segalanya bagi kita:  hikmat, berkat, perlindungan, kesembuhan, mujizat, pemeliharaan, penyertaan, anugerah dan juga pengampunan.  Namun semuanya itu belumlah cukup, salah satu kunci yang menentukan untuk mendapatkan semua yang baik dari Tuhan adalah jika kita memiliki karakter yang baik.  Tanpa karakter yang berkenan di hati Tuhan kita takkan menikmati janji Tuhan itu,  "Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."  (1 Petrus 3:12).

     Ada beberapa karakter yang seringkali menjadi penghambat berkat atau keberhasilan kita sebagai orang percaya, di antaranya adalah:  1.  Hati yang tidak mau percaya.  Ketidakpercayaan menjadi penghalang utama mengalami mujizat Tuhan.  Jangan keraskan hatimu, percayalah kepada Tuhan sepenuhnya.  Tuhan Yesus berkata,  "Katamu:  jika Engkau dapat?  Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"  (Markus 9:23).  Banyak orang Kristen yang baru mau percaya bila sudah melihat bukti.  Tetapi, mari kita belajar seperti Paulus, yang meski menghadapi banyak tantangan hidup tetap percaya kepada Tuhan.  Paulus berkata,  "sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-"  (2 Korintus 5:7).

     2.  Tidak bisa menguasai diri.  Penguasaan diri itu penting, karena itu adalah salah satu buah-buah Roh.  Jika tidak memiliki penguasaan diri kita  "...seperti kota yang roboh temboknya."  (Amsal 25:28), sehingga musuh (Iblis) akan mudah menyerang dan menjajah kita.

     3.  Suka berbohong atau dusta.  Berbohong berarti melawan kebenaran dan  "Orang yang dusta bibirnya dalah kekejian bagi Tuhan,"  (Amsal 12:22).  Alkitab jelas menyatakan bahwa Iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta (baca Yohanes 8:44).  (Bersambung)

YANG MENGHAMBAT JANJI TUHAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Januari 2011 -

Baca:  1 Petrus 3:8-12

"Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya."  1 Petrus 3:11

Setiap tindakan atau perbuatan adalah refleksi dari apa yag ada di dalam pikiran kita, buah dari pikiran.  Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam mengisi perbendaharaan hati kita, sebab  "...dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan."  (Markus 7:21).  Dalam Lukas 6:45a juga dikatakan bahwa,  "Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat."  Kita harus berusaha membangun karakter yang baik di dalam hidup ini bila kita rindu janji-janji Tuhan itu tergenapi.  Mari kita isi hati dan pikiran kita dengan hal-hal yang baik dan itu bersumber dari firman Tuhan.

    4.  Putus asa.  Orang yang mudah putus asa atau menyerah di tengah jalan pasti tidak akan pernah mencapai tujuan.  Pada saat awal menerima panggilan dari Tuhan Musa sempat putus asa dan hampir menyerah pada keadaan.  Tetapi Tuhan terus meyakinkan Musa bahwa Dia yang akan menyertai dan menuntunnya.  Akhirnya Musa pun taat melakukan apa yang diperintahkan Tuhan.  Bila melihat situasi yang ada dan besarnya masalah yang kita alami, banyak alasan bagi kita untuk berputus asa dan menyerah.  Namun itu hanya akan membawa kita kepada kegagalan.  Kita harus bangkit!  Alkitab menegaskan bahwa  "...dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."  (Roma 8:37).  Tanpa ketekunan dan kesetiaan adalah mustahil bagi seseorang menikmati janji Tuhan.

     5.  Suka mendendam alias tidak bisa mengampuni.  "...jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."  (Matius 6:15) dan dipastikan bahwa doa-doa kita tidak akan dijawab oleh Tuhan.  Oleh karena itu buang semua kebencian dan rasa dendam yang ada di hati (baca  Imamat 19:17-18).  Tuhan menjanjikan suatu kehidupan yang penuh berkat dan berkemenangan bagi kita, namun kita pun harus memberikan respons yang benar melalui sikap dan perbuatan yang benar pula supaya janjiNya itu tergenapi.

Buang semua perkara yang negatif dan berubahlah mulai sekarang!

Senin, 06 Desember 2010

Senin, 06 Desember 2010

Berhenti Menjadi Pemain Cadangan

Ibrani 12:1
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 145; Wahyu 1; Zakharia 9-10

Bud Wilkinson, mantan pelatih sepakbola di Universitas Oklahoma pernah menggambarkan sepakbola seperti ini, “Sepakbola di Amerika saat ini adalah 60, 70, atau 80 ribu penggemar yang butuh berolahraga yang bersorak-sorai menyemangati 22 orang pria di lapangan yang sangat membutuhkan istirahat!”

Beberapa penulis Alkitab sering menggunakan olahraga sebagai perumpamaan untuk menggambarkan kehidupan umat Allah. Dan saya sangat menyukainya karena kehidupan orang Kristen memang sudah seharusnya penuh semangat! Tidak membosankan seperti yang telah dijalani banyak orang.

Anda tahu, saya selalu berpikir salah satu pekerjaan terbaik di dunia adalah menjadi pemain cadangan di sepakbola professional. Yang Anda harus lakukan adalah duduk di bangku cadangan dan menghasilkan uang! Namun pada kenyataannya, saya tidak pernah menemukan satu orangpun pemain sepakbola yang menandatangani kontrak hanya untuk duduk sebagai penonton. Demikian juga harusnya kita sebagai orang Kristen. Kita tidak diciptakan untuk menjadi penonton yang menjerit-jerit untuk memberikan semangat. Kita lahir untuk bertanding dilapangan.

Namun banyak orang Kristen lebih suka duduk di bangku cadangan atau bahkan menjadi penonton. Mereka tidak mau keluar dari zona amannya. Mereka memang berdoa dan membaca firman Tuhan, namun mereka tidak mau taat dalam panggilan yang sudah Tuhan tetapkan bagi mereka.

Paulus menulis kepada Timotius seperti ini, “Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.”(2 Timotius 2:5). Untuk itu marilah kita melupakan apa yang telah di belakang kita dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapan kita, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:13-14).

Jangan hanya menjadi penonton atau pemain cadangan dalam perlombaan sorgawi ini. Marilah bertanding dengan segenap hati untuk meraih mahkota seorang juara.

Renungan terkait
* Mencintaimu segenap jiwa dan ragaku
* Buah roh penguasaan diri
* Betapa
* Mengapa wanita begitu bearti bagi pria
* Kekuatan atau kelemahan

Sabtu, 27 November 2010

Memuliakan Allah

– Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net), EDISI 28 November 2010
Baca: 1 Korintus 10:27-33
Ayat Mas: Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 1 Korintus 10:31
Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 33-34; 1 Petrus 5
Mengapa Tuhan menciptakan manusia? Salah satu alasannya adalah agar kita memuliakan nama-Nya. Jika Allah mencipta kita demi memuliakan-Nya, berarti hidup kita harus selalu mencerminkan hal itu. Ini tidak dapat ditawar lagi.
Memuliakan Tuhan bukan berarti membuat Tuhan lebih mulia, karena Dia sudah mulia dan tidak kekurangan kemuliaan; kemuliaan Tuhan sudah sempurna dan tidak perlu ditambahkan oleh manusia. Memuliakan Tuhan berarti mengakui dan menghargai kemuliaan Tuhan di atas segalanya dan membuat kemuliaan-Nya dikenal melalui hidup kita. Bagaimana caranya? Paulus berkata bahwa kita dapat memuliakan nama-Nya melalui bagaimana kita menjalani hidup dan beraktivitas.
Menarik juga perkataan Paulus ini. Bahkan, hal paling sederhana sekalipun, seperti makan dan minum, juga dapat memuliakan nama Tuhan. Bagaimana cara kita makan dan minum membuat nama Tuhan dikenal? Yakni jika kita menerima berkat Tuhan dengan mengucap syukur sebelum makan, dan dengan menikmatinya secukupnya, tidak berlebihan atau serakah. Demikian pula dalam aktivitas keseharian lain, kita dapat mengagungkan Tuhan dengan mengingat Dia yang selalu terlibat di hidup kita.
Ketika dijalani, hidup memuliakan Tuhan tidaklah serumit yang kita pikirkan. Memuliakan Tuhan bukan hanya dengan menyanyi di gereja atau pergi menjadi utusan Tuhan ke tempat yang jauh. Apabila hal-hal sederhana yang kita lakukan dan tunjukkan, menyatakan bagaimana kita hidup mengandalkan Tuhan dalam perkara hidup sesehari, maka nama Tuhan kita dapat dikenal orang, dan kita memuliakan Tuhan.
KITA ADALAH CERMIN ALLAH JADI ALLAH-LAH YANG HARUS TAMPAK DALAM HIDUP KITA
Penulis: Riand Yovindra

Senin, 22 November 2010

10 PRINSIP DALAM PELAYANAN

SEPULUH PRINSIP DALAM PELAYANAN (YOHANES 12:6)

Ada perbedaan yang cukup jelas antara melayani Tuhan dan melayani pekerjaan Tuhan. Melayani Tuhan adalah seperti Maria (Lukas 10:38- 42). Yang disebut melayani Tuhan adalah berdoa, membangun hubungan yang intim/akrab, serta menanti-nantikan Tuhan. Sedangkan, melayani pekerjaan Tuhan adalah seperti Marta (Lukas 10:38-42). Yang disebut melayani pekerjaan Tuhan adalah menjadi pemimpin pujian, penyanyi di gereja, pemusik, penari tamborin, guru sekolah minggu, dll..

-------------------------------------------------

Luk 10:38 Dan terjadilah, ketika mereka melanjutkan perjalanan, Dia pun masuk ke sebuah desa. Dan seorang wanita yang bernama Marta menyambut Dia ke dalam rumahnya.

10:39 Dan dia mempunyai seorang saudara perempuan yang disebut Maria, dialah juga yang sambil duduk di samping kaki YESUS, mendengarkan perkataan-Nya.

10:40 Namun, Marta terus-menerus disibukkan oleh banyaknya pelayanan. Dan sambil mendekat, dia berkata, "Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku seorang diri melayani? Maka, katakanlah kepadanya supaya dia membantu aku!"

10:41 Namun sambil menanggapi, YESUS berkata kepadanya, "Marta, Marta, engkau khawatir dan disusahkan oleh banyak hal,

10:42 tetapi, satu hal yang perlu, dan Maria telah memilih bagian yang baik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Banyak orang yang suka melayani pekerjaan Tuhan tetapi tidak suka melayani Tuhan. Orang yang melayani Tuhan pasti akan melayani pekerjaan Tuhan, tetapi belum tentu orang yang melayani pekerjaan Tuhan akan melayani Tuhan.



Dalam hidup ini yang terutama adalah melayani Tuhan, setelah itu melayani keluarga kita, baru melayani pekerjaan Tuhan.

Sepuluh Prinsip dalam Pelayanan
1. Dasar Pelayanan adalah Karakter

Dasar pelayanan kita tidak boleh dibangun atas dasar karunia tapi karakter. Bukan berarti karunia tidak penting. Karakter dan karunia harus berjalan bersama-sama dalam pelayanan. Karakter dan karunia itu seperti kedua kaki kita. Tanpa salah satu dari kaki itu, maka pelayanan kita akan pincang. Ada perbedaan antara karakter dan karunia.


Karakter:

a. nilainya kekal,

b. menyatakan kasih Tuhan,

c. melalui proses (waktu),

d. membuat kita dikenal Tuhan (1 Korintus 8:3), dan

e. harus dikejar (1 Korintus 14:1).
-----------------------------------------------------
1Kor 8:3 Akan tetapi jika seseorang mengasihi Elohim, maka dia telah dikenal oleh-Nya.
1Kor 14:1 Kejarlah kasih dan dambakanlah hal-hal yang rohani, tetapi terlebih lagi supaya kamu dapat bernubuat.


Karunia:

a. nilainya tidak kekal,

b. menyatakan kuasa Tuhan,

c. instan (langsung dapat),

d. membuat kita terkenal, dan

e. harus dikobarkan (2 Timotius 1:6; 1 Tesalonika 5:19).

------------------------------------------------

2Tim 1:6 Melalui alasan itu, aku mengingatkan engkau untuk mengobarkan karunia rohani dari Elohim yang ada padamu, melalui penumpangan tanganku.


1Tes 5:9 Sebab Elohim tidak menempatkan kita ke dalam murka, melainkan ke dalam pemeliharaan keselamatan melalui Tuhan kita YESUS Kristus,


2. Bentuk Pelayanan adalah Melayani

Banyak orang lebih suka dilayani daripada melayani. Ingatlah bahwa Tuhan datang ke bumi ini untuk melayani bukan untuk dilayani. Tuhan Yesus mau mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati (1 Yohanes 3:16; Filipi 2:5-8).

-------------------------------------------------

1Yoh 3:16 Dengan ini kita telah mengenal kasih: karena Dia telah mempertaruhkan jiwa-Nya demi kita, kita pun wajib mempertaruhkan jiwa demi saudara-saudara.


Fil 2:5 Karena apa yang ada ada di dalam Kristus YESUS, biarlah itu dipikirkan olehmu juga.

2:6 Dia, yang meskipun ada dalam rupa Elohim, tidak menganggap bahwa menjadi setara dengan Elohim adalah sesuatu yang harus dirampas.

2:7 Sebaliknya, Dia sudah mengosongkan diri-Nya sendiri dengan mengambil rupa seorang hamba agar berada dalam keserupaan manusia.

2:8 Dan supaya didapati dalam pola seperti manusia, Dia sudah merendahkan diri-Nya sendiri dengan menjadi taat sampai pada kematian, bahkan kematian di kayu salib.


3. Motivasi Pelayanan adalah Kasih

Motivasi pelayanan kita bukanlah untuk mendapat uang, HP, rumah, mobil, dsb.. Kita harus senantiasa termotivasi oleh kasih Tuhan yang ada di dalam kita karena kasih Tuhan sudah dicurahkan di dalam kita (Roma 5:5). Kasih Tuhan membuat kita sabar, murah hati, tidak iri hati dengan teman sepelayanan, tidak sombong, tidak egois, tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran, sabar menanggung sesuatu, percaya segala sesuatu, dan mengharapkan segala sesuatu (1 Korintus 13:4-8). Kasih itu memberi bukan menerima. Salurkan atau alirkan kasih Tuhan yang ada di dalam hati kita, jangan biarkan apa pun menyumbat kasih Tuhan mengalir dari hati kita. Itulah sebabnya jaga hati kita dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan (Amsal 4:23). Jangan biarkan hati kita tercemar atau dicemari dengan apa pun!
----------------------------------------------------
Rom 5:5 dan pengharapan tidak mempermalukan, karena kasih Elohim telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita.
1Kor 13:4 Kasih itu berpanjang sabar, ia bermurah hati. Kasih tidak cemburu. Kasih tidak menyombongkan diri, ia tidak memegahkan diri;
13:5 ia tidak berbuat yang tidak pantas, ia tidak mencari sesuatu bagi dirinya sendiri, ia tidak menghasut, ia tidak menghitung-hitung yang jahat;
13:6 ia tidak bersukacita atas ketidakadilan, tetapi turut bersukacita dengan kebenaran.
13:7 Ia menanggung semuanya, percaya semuanya, mengharapkan semuanya, ia tabah menanggung semuanya.
13:8 Kasih tidak pernah hilang, tetapi, baik nubuat, ia akan ditiadakan, maupun bahasa lidah, ia akan berhenti, bahkan pengetahuan, ia akan dilenyapkan.
Ams 4:23 Peliharalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah pancaran-pancaran kehidupan.


4. Ukuran Kesuksesan Pelayanan adalah Pengurbanan

Kesuksesan pelayanan tidak diukur oleh sudah berapa banyak rumah dan mobil yang dimiliki, melainkan oleh betapa besar pengurbanan yang sudah kita berikan untuk mereka yang terhilang, yang lemah, yang hina, yang tidak diperhatikan, yang miskin. Rasul Paulus berkata, "Aku suka mengorbankan milikku bahkan jiwaku untuk jiwa-jiwa" (2 Korintus 12:15). Inilah ukuran pelayanan yang benar.

------------------------------------------------

2Kor 12:15 Dan aku akan dengan gembira memanfaatkan dan dimanfaatkan sepenuhnya demi jiwamu, bahkan apabila dengan mengasihi kamu secara berlimpah aku semakin kurang dikasihi.

5. Otoritas Pelayanan adalah Penundukan Diri

Yakobus 4:7, "Tunduklah kepada Elohim, lawanlah iblis dan iblis akan lari dari padamu." Belajarlah tunduk kepada Elohim! Belajarlah tunduk kepada orang tua kita di dalam Tuhan! Belajarlah tunduk kepada gembala atau pemimpin kita!
------------------------------------------------
Yak 4:7 Oleh karena itu, tundukkanlah dirimu kepada Elohim, lawanlah si iblis, maka dia akan melarikan diri dari padamu.


6. Tujuan Pelayanan adalah Memuliakan Tuhan

Tujuan pelayan bukanlah untuk mencari nama, bukan untuk terkenal, melainkan untuk memuliakan Tuhan. Kita harus belajar membelokkan pujian yang orang berikan kepada kita untuk kita kembalikan kepada Tuhan. Jangan mau mencuri kemuliaan Tuhan. Biarlah kita yang semakin kecil, Tuhan yang semakin besar (Yohanes 3:30).

Ingatlah segala sesuatu yang kita kerjakan, Tuhanlah yang mengerjakannya untuk kita (Yesaya 26:12).
---------------------------------------------------
Yoh 3:30 Seharusnyalah Dia bertambah-tambah dan aku menjadi berkurang.
Yes 26:12 Ya YAHWEH, Engkau akan meneguhkan damai sejahtera bagi kami, karena, bahkan semua pekerjaan kami, telah Engkau kerjakan bagi kami.

7. Alat-alat Pelayanan adalah Firman, Doa, Pujian
(Yohanes 15:3;Yohanes 17:7; Efesus 3:20; 1 Yohanes 5:14; Mazmur 40:2-4; Yesaya 29:29- 30)
-----------------------------------------------------
Yoh 15:3 Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
Yoh 17:7 Sekarang mereka telah mengetahui, bahwa segala sesuatu apa saja yang telah Engkau berikan kepada-Ku adalah dari Engkau.
Ef 3:20 Namun, bagi Dia yang berkuasa untuk melakukan di atas segalanya, jauh melebihi apa yang kita minta atau pahami sesuai dengan kuasa yang sedang bekerja di dalam kita,
1Yoh 5:14 Dan inilah keyakinan diri yang kita miliki terhadap Dia, bahwa jika kita meminta sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, Dia mendengarkan kita.
Maz 40:2 Sesungguhnya aku menanti-nantikan YAHWEH, dan Dia memandang kepadaku dan mendengar seruanku.
40:3 Dan Dia mengangkat aku dari lubang kebinasaan, dari lumpur yang menjijikkan; dan Dia menempatkan kakiku di atas batu karang; Dia menetapkan langkahku.
40:4 Dan Dia memberikan nyanyian baru dalam mulutku, suatu pujian bagi Elohim kita. Banyak orang akan melihat dan menjadi takut, lalu percaya kepada YAHWEH.


a. Firman adalah pedang roh kita dalam peperangan rohani (Efesus 6:18).
Firman membersihkan dan menguduskan kita (Yohanes 15:3; Yohanes 17:7). Di dalam firman ada nama Yesus dan semua harus tunduk kepada nama Yesus yaitu nama di atas segala nama.
--------------------------------------------------
Ef 6:18 Seraya berdoa dengan Roh dalam setiap kesempatan melalui segala doa dan permohonan, dan berjaga-jaga dengan segala ketekunan dan permohonan dalam hal yang sama ini berkenaan dengan semua orang kudus,
Yoh 15:3 Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
Yoh 17:7 Sekarang mereka telah mengetahui, bahwa segala sesuatu apa saja yang telah Engkau berikan kepada-Ku adalah dari Engkau.

b. Doa membuat kita menang di dalam peperangan! Doa menghasilkan kuasa dan damai sejahtera! Doa membuka pintu surga! Doa mengubah dunia ini! Doa membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin! Doa mengubah kutuk menjadi berkat!


c. Pujian merobohkan tembok Yeriko! Pujian membuat musuh-musuh kita terpukul kalah! Pujian menarik banyak jiwa datang kepada Tuhan!


Di dalam firman ada kuasa, ucapan, perkataan firman! Di dalam doa ada kuasa, tetaplah berdoa! Jangan jemu-jemu berdoa! Di dalam pujian ada kuasa! Tetaplah memuji Tuhan!


8. Kehormatan Pelayanan adalah Bertumbuh dalam Kekudusan

Bertumbuh terus di dalam kasih, iman, dan pengharapan!

Bertumbuhlah terus di dalam kekudusan! Kejarlah kekudusan!

Sebab tanpa kekudusan tidak ada seorang pun yang dapat melihat Tuhan.


9. Kuasa Pelayanan adalah Roh Kudus dan Ketaatan

Roh Tuhan ada pada gereja Tuhan. Tuhan mengurapi gereja-Nya untuk menyembuhkan yang sakit, mengabarkan Kabar Baik, membebaskan para tawanan, mengusir setan, melenyapkan sakit penyakit dan segala kelemahan tubuh, menginjak ular dan kalajengking, menahan kekuatan musuh sehingga tidak ada yang membahayakan gereja-Nya (Lukas 4:18-19; Matius 10:1, 7-8; Lukas 10:19)

--------------------------------------------------

Luk 4:18 "Roh YAHWEH ada pada-Ku, karena Dia telah mengurapi Aku, untuk menginjil kepada orang-orang miskin, Dia telah mengutus Aku, untuk menyembuhkan orang-orang yang hancur hati, untuk mengkhotbahkan pembebasan bagi para tawanan, dan pemulihan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk mengutus dalam kebebasan orang-orang yang tertindas.


Luk 4:19 Untuk mengkhotbahkan tahun perkenan YAHWEH."


Mat 10:1 Dan setelah memanggil kedua belas murid-Nya, Dia memberikan otoritas atas roh-roh najis kepada mereka, untuk mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan setiap penyakit dan semua kelemahan tubuh.


Mat 10:7 Dan seraya pergi, beritakanlah dengan berkata: Kerajaan surga sudah dekat.

Mat 10:8 Sembuhkanlah yang sakit, tahirkanlah yang kusta, bangkitkanlah yang mati, usirlah setan-setan; kamu sudah menerimanya dengan cuma-cuma, berilah pula dengan cuma-cuma!


Luk 10:19 Lihatlah, Aku memberikan kepadamu otoritas untuk menjejakkan kaki di atas ular dan kalajengking dan atas segala kuasa musuh, dan bahkan tidak ada sesuatu pun yang dapat melukai kamu.


Hiduplah dalam ketaatan! Kita punya kuasa Tuhan! Bangkitlah dan jadilah terang maka dunia ini tidak akan menjadi sama lagi!


10. Teladan Pelayanan adalah Tuhan Yesus

Teladan utama pelayanan kita adalah Tuhan dan bukan manusia. Jika teladan kita meneladani manusia, bahkan hamba Tuhan, maka Tuhan akan izinkan kita untuk kecewa terhadap hamba Tuhan itu. Fokuskan mata, hati, pikiran kita kepada Tuhan maka kita tidak akan kecewa (Mazmur 16:8; Ibrani 3:1; Ibrani 12:2).
------------------------------------------------
Maz 16:8 Aku senantiasa menempatkan YAHWEH di hadapanku; karena Dia ada di sebelah kananku, aku tidak akan tergoyahkan.
Ibr 3:1 Oleh karena itu hai saudara-saudara yang kudus, yang menjadi mitra panggilan surgawi, pandanglah Rasul dan Imam Besar pengakuan kita, Kristus YESUS,
Ibr 12:2 sambil memandang kepada YESUS, Penguasa dan penyempurna iman, yang dengan mengabaikan aib ganti sukacita yang disediakan bagi-Nya, Dia tabah memikul salib; maka Dia telah duduk di sebelah kanan takhta Elohim.


Tidak ada lagi tawar hati!

Tidak ada lagi kekecewaan!

Tidak ada lagi kepahitan!


Bumi ini akan penuh dengan kemuliaan Tuhan. Ingatlah dan yakinlah jerih payah kita di dalam Tuhan tidak akan sia-sia (1 Korintus 15:58).
-------------------------------------------------
1Kor 15:58 Maka dari itu, saudara-saudaraku yang terkasih, jadilah teguh tak tergoyahkan, dengan senantiasa berkelimpahan dalam pekerjaan Tuhan, karena mengetahui bahwa jerih payahmu di dalam Tuhan tidak menjadi sia-sia.


Janganlah kerajinan kita kendor, biarlah roh kita menyala-nyala dan layanilah Tuhan (Roma 12:11).

---------------------------------------------------

Rom 12:11 dengan kerajinan yang tidak kendur, dengan bernyala-nyala dalam roh, dengan menghambakan diri kepada Tuhan,


Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul majalah: Nafiri Kasih, Edisi 021/Desember 2002

Judul artikel: 10 Prinsip dalam Pelayanan

Penulis: Ishak Lukas Sunarto Wong

Minggu, 07 November 2010

Perjumpaan yang Mengubahkan

– Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net), EDISI 8 November 2010
Baca: Yohanes 4:1-14
Ayat Mas: Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Yohanes 4:13,14
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 43-45; Ibrani 5
Pernahkah hati Anda tertambat pada sesuatu atau seseorang? Sesuatu yang menambat hati kita pasti istimewa dan mengesankan; lalu menciptakan kenangan tersendiri dalam ingatan. Lebih dari itu, mungkin ia juga dapat mengubah jalan kehidupan kita selanjutnya.
Demikianlah yang terjadi pada suatu siang di Sikhar. Ada dua orang yang belum pernah saling jumpa. Mereka tampak berbeda. Yang satu lelaki, yang satu perempuan; yang satu Yahudi, yang lain Samaria; yang satu haus dan tak punya timba, yang satu lagi siap mengambil air dengan timba. Kedua orang ini bertemu di sumur. Alangkah mengejutkan karena lelaki tanpa timba yang haus itu justru memiliki air hidup yang membuat siapa pun yang meminumnya tak haus lagi. Sementara perempuan yang siap menimba, ternyata adalah pihak yang mendambakan air hidup itu.
Penjumpaan dan percakapan dengan lelaki itu begitu memesona dan mengubah hidup perempuan Samaria ini. Ia berubah—dari perempuan yang status sosialnya direndahkan karena kehidupan seksual yang mencengangkan, menjadi perempuan penginjil (ayat 28,29). Ya! Setelah berjumpa dengan Yesus, ia bersaksi bahwa dahaga hatinya telah lenyap, diganti dengan air hidup yang terus mengalir. Mengapa? Sebab Yesus menyentuh hati yang haus dan mengalirkan kehidupan baru di hati perempuan itu.
Apabila Anda mengalami dahaga jiwa yang membuat Anda merasa hampa dan mencari-cari, datanglah dan mintalah air hidup kepada Yesus. Minta Tuhan berkarya; mengubah, memperbarui, dan menyegarkan segenap aspek hidup Anda—pikiran, perkataan, tindakan, karakter, dan sebagainya.
KRISTUS MENAWARKAN AIR KEHIDUPAN SUPAYA SETELAH MEMINUMNYA, KITA TAK PERNAH LAGI KEHAUSAN
Penulis: Daniel K. Listijabudi

Senin, 01 November 2010

5 Tips Menghadapi Godaan

Ketika mempercayakan hidup kepada Kristus, karena anugerah-Nya secara posisional kita menjadi orang kudus (positional sanctifiction). Maksudnya, kita menjadi orang kepunyaan-Nya dengan segala tugas, panggilan dan tanggungjawabnya. Sebuah pengalaman hidup terindah! Namun demikian, kita dituntut untuk menjalani hidup kudus, bertumbuh menjadi serupa dengan Dia dalam karakter, sifat, kelakuan hidup kita (progressive sanctification). Pada akhirnya dalam sekejap mata kita diubahkan menjadi seperti Kristus (final sanctification).

Dalam proses penyucian, kita harus menghadapi godaan, yakni dorongan-dorongan di dalam batin kita untuk memenuhi keinginan-keinginan indah yang berlawanan dengan firman-Nya. Misalnya, dorongan untuk korupsi, karena ingin hidup mewah; dorongan untuk sombong, karena ingin dihormati sesama; dorongan untuk melakukan extra marital sex, karena sedang ingin bercinta, dstnya.

Ketika godaan datang, Yakobus memberikan tips untuk mengatasinya ;
1. INGATLAH MAHKOTA KEHIDUPAN BAGI SANG PEMENANG (Yak. 1:12)
Allah menjanjikan mahkota kehidupan, bagi orang yang mengasihi Dia, yakni bagi orang yang memilih untuk menolak godaan dan melakukan firman-Nya. Mahkota kehidupan bukanlah kehidupan kekal, namun ini merupakan kuasa dan otoritas untuk memerintah bersama Kristus dalam kekekalan kelak (2Tim. 2:12) yang dipercayakan kepada hamba-Nya yang baik dan setia. Mahkota ini adalah harta terindah dan terbaik yang akan kita persembahkan bagi kemuliaan Anak Domba Allah (Why. 4:10).

2. INGATLAH SUMBER GODAAN ITU BUKAN DARI ALLAH (Yak. 1:13)
Tulis Yakobus, ketika seseorang dicobai, janganlah ia berkata "Pencobaan ini datang dari Allah!" Alasannya adalah karena sifat-Nya, Allah tidak pernah sedikitpun hendak menjerumuskan kita ke dalam dosa. Datangnya godaan itu adalah dari keinginan-keinginan kita sendiri. Dosa terjadi ketika kita memenuhi keinginan itu dengan motif, cara, dan tujuan yang berlawanan dengan firman-Nya.

3. INGATLAH KONSEKUENSI PERBUATAN DOSA (Yak. 1:15)
Kata Yakobus, apabila keinginan itu dibuahi, maka menghasilkan dosa, dan apabila dosa itu sudah matang, maka ia melahirkan maut. Jadi, godaan itu arahnya menuju kematian. Maksudnya adalah kematian jasmani, fisik, bukan kematian rohani. Untuk kematian rohani manusia tidak perlu berbuat dosa sampai matang; cukup makan buah terlarang saja. Namun untuk kematian fisik, yah dosa itu harus sampai matang.

Sebagai contoh, pernah ada seorang anak Tuhan yang meninggalkan isterinya yang sah, hidup dan menikah lagi dengan perempuan yang lebih muda. Untuk sementara dia bisa menikmati isteri mudanya. Tapi tidak berlangsung terlalu lama, saya diberitahu bahwa anak Tuhan itu sudah mati dengan cara yang tragis. Menjelang kematiannya, dia ditempatkan di ruang isolasi rumah sakit, karena kalau udah muntah, baunya amat busuk dan menyengat.

Contoh lain, seorang Ibu muda, masih cantik dan kaya. Namun dia mengingkari perjanjian pernikahannya, hidup selingkuh seenaknya. Suaminya merana terhina. Untuk sementara, dia bisa menikmati dosanya. Namun tidak berselang lama, tiba-tiba saja ada benjolan di payudaranya, dan itu berkembang sampai menjadi kanker payudara stadium ke empat. Dokter ternama dari luar negeri pun tidak bisa mengatasi meskipun ketika baru sekedar benjolan. Akhirnya dia mati juga.

4. INGATLAH KEBAIKAN TUHAN PADA KITA (Yak. 1:16-17)
"Saudara-saudara yng kukasihi," tulis Yakobus, "janganlah sesat!" Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang." Maksudnya, Allah itu baik bagi kita, janganlah membalas kebaikan-Nya dengan melukai hati Bapa kita.

5. INGATLAH STATUS KITA SEBAGAI ANAK SULUNG (Yak. 1:18)
Ya, kita adalah ciptaan baru, dijadikan oleh benih firman-Nya. Tujuannya adalah supaya pada tingkat tertentu kita menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya. Dengan status sebagai ciptaan baru oleh firman-Nya, kita memiliki kehidupan baru, kehidupan persekutuan personal penuh kasih dengan Allah. Sepantasnya kita hidup menurut firman-Nya. Tidak ada cara lain.

Sebagai anak sulung kita adalah pengelola harta Bapa kita; kita adalah pemimpin atas segala ciptaan-Nya. Kalau tidak, kita akan seperti Esau yang menyesal karena telah menjual berkat-berkat hak kesulungan dari TUHAN. Jadi, jangan pernah menyerah.

Hikmat dari Tuhan melebihi segalanya

“ Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas.” Amsal 3:13-14
Menurut pendapat umum, orang yang mampu menyelesaikan studinya pada tingkat tinggi akan dianggap sebagai orang berhikmat, contoh: orang yang menyelesaikan studi sampai SMA dianggap memiliki hikmat lebih rendah dari seorang sarjana (S1), sedangkan yang berijazah S1 masih kalah hikmatnya dari lulusan master (S2), dan seterusnya. Itu menurut pemikiran kita ! Dalam hal pengetahuan dan juga kecerdasan intelektual memang mereka memiliki tingkat yang berbeda, tetapi orang yang lulus sekolah belum tentu mempunyai 'hikmat' seperti yang dimaksudkan dalam Alkitab. Kata hikmat yang dimaksud dalam ayat di atas adalah wahyu dari Tuhan. Perihal hikmat ini tidak pernah terpikirkan oleh orang dunia. Bagi mereka, kecerdasan dan keahlian (skill) sudah lebih dari cukup.

Hikmat (wahyu) hanya dapat kita peroleh apabila kita memiliki hati yang takut akan Tuhan; artinya ketika kita taat melakukan segala kehendak Tuhan, hikmat itu akan diberikan kepada kita. Oleh karenanya kita harus berusaha mendapatkan hikmat itu. Bagaimana caranya ? “...jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah. Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulutNya datang pengetahuan dan kepandaian.” ( Amsal 2:1,4-6 ).

Sebagai orang percaya, di dalam hidup kita ada Roh Kudus yang adalah sumber hikmat itu. Tetapi apabila kita hidup dalam kedagingan, hawa nafsu dan tidak mau tunduk kepada kehendak Tuhan, kita telah memadamkan Roh Kudus yang ada di dalam diri kita. Akibatnya hikmat tidak kita dapatkan, padahal Roh Kuduslah yang memberikan hikmat itu kepada kita. Sebaliknya, jika hidup kita dipenuhi Roh Kudus, kita akan mengerti apa kehendak dan isi hati Tuhan.

Yang utama adalah mengandalkan hikmat dari Tuhan, kemudian barulah ditunjang oleh kepandaian dan skill kita !

Kamis, 21 Oktober 2010

KASIH KARUNIA TUHAN BAGI PAULUS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Oktober 2010 -

Baca: 1 Timotius 1:12-20

"Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya:  'Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa.' dan di antara mereka akulah yang paling berdosa."  1 Timotius 1:15

Rasul Paulus berkata, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman."  (2 Timotius 4:7).  Inilah pernyataan Paulus bahwa ia telah mengakhiri pertandingan dengan baik, telah mencapai garis akhir serta telah memelihara iman.  Tetapi ia masih menyebut dirinya sebagai orang yang paling berdosa.  Kata 'akulah' (ayat nas) benar-benar menunjukkan pengakuan diri yang mendalam bahwa ia sama sekali tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.

     Paulus bersaksi kepada orang lain bahwa ia sepenuhnya bergantung pada kasih karunia Allah.  Alkitab menegaskan, "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus."  (Roma 3:23-24).  Rasul Paulus mengakui bahwa ia telah dibenarkan, dan itu sepenuhnya karena kasih karunia Allah.  Ia menganggap dirinya lebih buruk dari yang lain, dengan demikian ia lebih membutuhkan kasih karunia Allah daripada orang lain.  Kita mungkin menilai Paulus lebih dari yang lainnya dalam menerima terang Allah.  Sekali lagi Paulus menegaskan bahwa tidak ada sesuatu dalam dirinya yang bisa dibanggakan dan tidak seharusnya ia memegahkan diri!  Sebaliknya ia berkata, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri."  (Efesus 2:8-9).  Paulus dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus atas kehendak Allah, bukan karena baik atau punya kelebihan dari yang lain.

     Jadi, ingatlah: "...bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.  Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memgahkan diri di hadapan Allah."  (1 Korintus 1:26-29).

Jangan ada yang memegahkan diri...

Sabtu, 09 Oktober 2010

Think Less, Feel More

– Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net), EDISI 9 Oktober 2010
Baca: 1 Samuel 17:1-13
Ayat Mas: Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Efesus 3:20
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 32-33; Kolose 1
Sebuah majalah nasional memiliki rubrik khusus yang menceritakan aksi heroik seseorang yang menyelamatkan orang lain; menceburkan diri ke laut, menembus kebakaran. Umumnya orang-orang yang bergantian diceritakan adalah warga biasa. Namun, menurut salah seorang pengasuhnya, ada satu kesamaan yang menyatukan mereka: mereka bertindak tanpa berpikir. Saya jadi teringat pada pesan yang dicoretkan Rene Suhardono—seorang career coach—dalam bukunya: Think Less, Feel More (Lebih sedikit berpikir, lebih banyak merasa).
Ada saat-saat dalam hidup ini ketika kita tidak dapat mengandalkan logika semata. Contohnya ada juga dalam bacaan hari ini. Dibanding saudara-saudaranya yang sudah menjadi prajurit, Daud adalah anak paling kecil (dari segi usia dan perawakan) yang aktivitas sehari-harinya adalah menggembala domba-domba ayahnya di padang rumput. Sedangkan pasukan Filistin tampil sebagai prajurit berpengalaman. Benar-benar lawan yang tak seimbang. Tatkala akhirnya Daud memutuskan untuk maju melawan raksasa Goliat, orang melihatnya sebagai tindakan yang tidak realistis. Namun, Daud mengandalkan imannya kepada Tuhan. Seluruh perasaannya diliputi kepercayaan kepada Allah yang ia yakini sanggup menolong. Dan, ia menang. Bagi Tuhan, tidak ada orang biasa atau luar biasa; yang ada hanya orang yang mau membuka hati untuk dipakai oleh-Nya atau tidak.
Dalam hidup ini, ada situasi-situasi di mana kita seharusnya berpikir, tetapi juga diimbangi dengan respons dari hati. Bukalah hati Anda untuk dipakai Tuhan, karena Dia mau memakai Anda, melebihi dari yang bisa dipikirkan oleh otak kita
SESUATU YANG MUSTAHIL BAGI LOGIKA PUN BISA TERJADI APABILA TUHAN MENGHENDAKI DAN HAMBA-NYA MEMBUKA HATI

Kamis, 07 Oktober 2010

MARI BERPERKARA DENGAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Oktober 2010 -

Baca: Yesaya 1:10-20

"Marilah, baiklah kita berperkara! - firman Tuhan - Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."  Yesaya 1:18

Ketika doa-doa yang mereka panjatkan belum juga terjawab, banyak orang beranggapan bahwa Tuhan itu tidak ada atau Tuhan itu tidak adil.

     Sesungguhnya hal utama yang harus kita lakukan adalah memeriksa diri terlebih dahulu, masalah apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita.  Kita mengira bahwa dengan memberikan persembahan yang banyak atau uang jutaan untuk gereja, hati Tuhan sudah disenangkan.  Mari perhatikan ini:  korban yang dipersembahkan kepada Tuhan jika tidak disertai dengan pertobatan hidup yang merupakan kekejian bagi Tuhan.  Tuhan berkata kepada bangsa Israel, "Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagiKu."  (Yesus 1:13a).  Bahkan Tuhan berkata, "Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah."  (Yesaya 1:15).  Yang dimaksud tangan penuh dengan darah bukan semata-mata pembunuhan secara fisik, tapi juga penganiayaan rohani terhadap orang lain seperti gosip, fitnah, iri hati dan perbuatan-perbuatan jahat lainnya.  Dan satu-satunya cara membuat Tuhan mau mendengar dan memperhatikan doa-doa kita adalah kita harus berhenti berbuat dosa dan bertobat bersungguh-sugguh.  Ia berkata, "Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mataKu.  Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!"  (Yesaya 1:16-17).

     Jika kita bertobat dengan sungguh-sungguh, doa kita akan diampuni!  Seperti dikatakanNya, "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu."  (Yesaya 43:25).  Karena Dia sudah mengampuni dosa kita, Dia menghendaki ada tindakan nyata kita, "Ingatkanlah Aku, marilah kita berperkara, kemukakanlah segala sesuatu, supaya engkau nyata benar!"  (Yesaya 43:26).

Janji Tuhan itu ya dan amin, "Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu."  (Yesaya 1:19).

Faithfreedom.org

NYT > Israel

ForumKristen.com - Komunitas Kristen Terbesar di Internet